Pekerja Wanita Dunia Terancam
Baca artikel di "Dunia Wanita Pekerja Terancam" online di Gajimu.com di Indonesia. Setelah pemantauan kesempatan kerja bagi perempuan di dunia, ILO memperingatkan bahwa perempuan tidak akan bebas dari penghentian kerja orientasi.
Organisasi Buruh Dunia, ILO, memastikan akibat krisis ekonomi global tahun ini sekitar 22 juta wanita akan kehilangan pekerjaaanya.
Setelah melakukan pemantauan terhadap kesempatan kerja bagi wanita dunia, ILO memperingatkan bahwa wanita tidak akan terbebas dari kecendrungan pemberhentian kerja.
Menurut ILO, setelah krisis global ini, gelombang pemberhentian kerja awalnya terjadi pada lelaki pekerja di sektor keuangan di sejumlah negara kaya.Dan kini sepertinya hal ini akan meluas ke berbagai sektor lain.
“Sektor yang sebelumnya paling terpukul adalah keuangan, asuransi, properti, konstruksi dan industri yang semuanya didominasi pekerja lelaki,” ujar Jeff Johnson, penulis laporan tersebut.
“Tapi krisis berlanjut, dan mulai merambah sektor lainnya seperti pelayanan dan jasa, retail, dan industri rumahan yang kebanyakan didominasi oleh wanita pekerja,” lanjutnya. Krisis berlanjut, dan mulai merambah sektor lainnya seperti pelayanan dan jasa, retail, dan industri rumah tangga yang kebanyakan didominasi oleh wanita. Seiring dengan menurunnya daya beli konsumen, akan lebih banyak lagi kesempatan kerja bagi wanita di sektor informal yang akan hilang seperti pelayan, pramuniaga.
Saat ini ILO juga lebih khawatir dengan pekerja wanita di negara berkembang yang bekerja di sektor pertanian, industri rumah tangga, bahkan penjual makanan. Mereka inilah para pekerja wanita yang tidak memiliki jaminan sosial dan menjadi lebih rentan karena krisis global ini.
ILO memperkirakan hilangnya kesempatan kerja di dunia akan meningkat menjadi 51 juta orang, dan 22 juta diantaranya adalah pekerja wanita. Organisasi internasional ini menyerukan seluruh pemerintahan di dunia agar mengantisipasi hal ini dengan membuka lapangan kerja baru lewat paket stimulus ekonomi yang menjamin upah yang layak dan tersedianya jaminan sosial.(bbc)







