﻿<texts>


   <title1>Apa itu Partner Check?</title1>
    <texto1>Partner Check adalah sebuah permainan yang mengundang perempuan berusia maksimal 35 tahun untuk membayangkan berbagai skenario ekonomi, profesi dan personal yang akan timbul akibat memilih pasangan.</texto1>
 
    <title2>Bagaimana cara kerjanya?</title2>
    <texto2>Kamu akan mendapat beberapa pilihan yang membentuk cerminan diri kamu. Isi usia kamu, tingkat pendidikan dan penghasilan. Kemudian pilih informasi yang sama untuk pasangan ideal kamu. Sehingga akan tercermin dua skenario yang berbeda.</texto2>

    <title3>Apa tujuannya?</title3>
    <texto3>Yayasan Wage Indicator Foundation membuat permainan ini untuk proyek Decisions for Life (Keputusan untuk Hidup). Dalam proyek yang membangkitkan kesadaran memilih karier ini. pasangan dan keluarga berperan peting.</texto3>
 


    <boton_start>Memulai permainan</boton_start>


    <!-- level 1 -->
   
    <lv1_title1>Bagaiamana mencerminkan diri kamu?</lv1_title1>
    <lv1_subtitle1>Buat cerminan diri dg berbagai pilihan berikut</lv1_subtitle1>
   
    <mouth>Mulut</mouth>
    <hair>Rambut</hair>
    <eyes>Mata</eyes>
    <nose>Hidung</nose>
    <face>Wajah</face>
    <clothes>Pakaian</clothes>
   
    <bt_next>Brkut </bt_next>
    <bt_prev>Sblum</bt_prev>
   
   
     <!-- level 2 -->
   
    <lv2_title1>Kami perlu informasi tentang kamu</lv2_title1>
    <lv2_subtitle1>Isi ketiga kotak di bawah ini lalu tekan BRKUT</lv2_subtitle1>
   
    <age_tit>Usiaku</age_tit>
    <revenue_tit>Gajiku</revenue_tit>
    <studies_tit>Sekolahku</studies_tit>
   
    <age1>15-20</age1>
    <age2>21-25</age2>
    <age3>26-30</age3>
    <age4>31-35</age4>
   
    <lower>Sgt Rndah</lower>
    <low>Rendah</low>
    <high>Sedang</high>
    <Higher>Tinggi</Higher>
    <dontcare>Tdk pduli</dontcare>
   
    <info>Pilih salah satu sebelum melanjutkan</info>
   
    <decide_tit>Kamu memutuskan untuk jadi...</decide_tit>
    <decide1>Dengan seorang pria</decide1>
    <decide2>Dengan pria dari negara lain</decide2>
	<decide3>Dengan pria seagama</decide3>
    <decide4>With a woman</decide4>
    <decide5>Hidup sendiri</decide5>
    <decide6>Hidup sendiri & anak</decide6>

     <!-- level 3 -->
   
    <lv3_title1>Pilih pasanganmu!</lv3_title1>
    <lv3_subtitle1>Pilih usia, gaji dan pendidikan</lv3_subtitle1>
   
    <age_tit2>Usia</age_tit2>
    <revenue_tit2>Gaji</revenue_tit2>
    <studies_tit2>Pendidikan</studies_tit2>
   
    <!--results-->
    <result_title1>Inilah hasil Partner Check kamu.</result_title1>
    <result_subtitle1>Skenario berdasarkan pilihan kamu</result_subtitle1>
   
    <bt_scenario1>Skenario 1</bt_scenario1>
    <bt_scenario2>Skenario 2</bt_scenario2>
   
    <!--SCENARIOS-->
    <!--01 -->
    <scenario01_tit>Usia Panji 3 tahun lebih muda tetapi tingkat pendidikannya sama dengan kamu.</scenario01_tit>
    <scenario01_01>Karena lebih tua darinya, kamu berkarier lebih dahulu dari dia. Dia senang dengan karier dan gaji kamu. Panji menentukan kariernya sendiri. Setelah punya anak, kamu berdua memutuskan untuk membayar perawat anak sehingga karier kamu tidak terganggu. Setelah berusia 50 tahun, kamu akhirnya sadar bahwa cuma sedikit wanita yang sukses dalam kariernya. Kecil kemungkinan kamu dapat jatuh miskin. Kamu adalah model peran bagi anak gadis kamu.</scenario01_01>
    <scenario02_01>Kamu sukses dalam bekerja sehingga karier pun cepat menanjak. Dia kurang beruntung dan cemburu atas kesuksesan profesi kamu. Setelah punya anak, suami dan ibu mertua kamu terus menuntut kamu berhenti bekerja. Akhirnya kamu berhenti bekerja untuk menjaga anak. Setelah anak agak besar kamu kembali bekerja. Tetapi kini tidak mudah, pengalaman kerja hanya bisa untuk pekerjaan bergaji kecil. Kamu pun putus asa dan menceraikannya. Anak kamu mendapatkan pelajaran ini. Dia hanya akan menikah dengan pria yang dapat menghargai keinginannya untuk bekerja.</scenario02_01>
   
    <!--02 -->
    <scenario02_tit>Usia Arman 3 tahun lebih muda dan tingkat pendidikannya di bawah kamu.</scenario02_tit>
    <scenario02_01>Karier kamu bagus, sementara pekerjaan dia tidak terlalu sibuk sehingga dapat sambil mengurus rumah dan anak-anak. Keadaan yang ideal, terutama karena dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki rumah. Tanpa disadari saat mendekati usia 50 tahun, kamu mendapatkan hidup dengan suami dan anak-anak yang membahagiakan. Suami kamu bisa menjaga kamu tetap fit dan bebas dari stres pekerjaan. Dia juga senang menjalani kehidupan dengan keseimbangan kerja.</scenario02_01>
    <scenario02_02>YKarier kamu bagus dan punya anak. Sayangnya, pekerjaannya yang tidak terlalu sibuk dan gaya hidup telah membuatnya berbuat serong. Dia mulai menjalin hubungan mesra dan mengakibatkan perkawinan kamu berdua hanya berumur pendek. Tetapi gaya hidup kamu tidak terpengaruh, karena secara finansial kamu mandiri. Selepas usia 50 tahun, kamu akan hidup dengan tenang dan bahkan dapat membiayai pendidikan anak-anak. Apakah kamu merindukan kehadiran pria di dalam rumah?</scenario02_02>
   
    <!--03 -->
    <scenario03_tit>Yono adalah rekan kerja kamu yang sebaya.</scenario03_tit>
    <scenario03_01>Kalian bersahabat dan memutuskan untuk berbagi semuanya: anak, rumah, karier. Dia mendukung cita-cita karier kamu. Dia juga memahami bahwa kamu harus berusaha. Dia pun tahu bahwa gaji wanita biasanya lebih kecil. Tanpa bermaksud merendahkan kamu. Dia mendukung kehidupan yang seimbang dan harmonis. Kamu bersamanya sampai tua. Jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, setidaknya kalian secara keuangan tidak punya masalah. Kamu berdua dapat dan akan membantu satu sama lain.</scenario03_01>
    <scenario03_02>Kamu menyukai pekerjaan kamu, memulai karier, membeli rumah, menikah lalu punya anak. Anak kamu kemudian terserang penyakit aneh dan harus dirawat terus menerus. Tapi tidak punya orang tua yang dapat menolong kamu merawatnya. Karena itu kamu lalu berhenti bekerja, sehingga kebutuhan menuntut penghasilan Yono lebih tinggi. Setelah lama terbaring sakit akhirnya anakmu pun meninggal dunia. Akibat kesedihan akhirnya kamu dan Yono bercerai. Kini kamu hanya mendapat pekerjaan informal bergaji kecil. </scenario03_02>
   
    <!--04 -->
    <scenario04_tit>Usia Dedi 3 tahun lebih tua dari kamu tetapi sama-sama berpendidikan tinggi.</scenario04_tit>
    <scenario04_01>Kalian menikah, lalu punya anak. Kamu memutuskan bahwa Dedi yang bekerja sedangkan kamu yang merawat anak. Dengan harapan suatu saat nanti kamu mendapat kesempatan bekerja. Kamu menyarankan teman-teman kamu melakukan hal serupa: sepenuhnya waktu bersama anak, tidak stres, Dedi mendapat gaji tinggi. Dia senang melihat kamu dan anak-anak bermain rumah-rumahan. Urusan mengurus anak akhirnya selesai - usia kamu sekarang sudah 40 tahun - kamu harus kursus untuk mendapatkan pekerjaan. Dedi dengan senang hati membiayai kursusnya. Semuanya berjalan mulus. Kamu mendapatkan pekerjaan dan gaji berdua cukup untuk membiayai pendidikan anak-anak.</scenario04_01>
    <scenario04_02>Kamu berdua punya pekerjaan yang bagus, rumah indah dan anak. Kamu memutuskan bahwa Dedi yang harus mencari uang sedangkan kamu yang merawat anak sampai mereka cukup besar. Kemudian Dedi dipecat, tetapi diterima bekerja di tempat yang sangat jauh. Kamu akhirnya pindah rumah. Sekali lagi: harus kehilangan pekerjaan dan pindah rumah. Kini keluarga sudah tidak stabil dan uang pun tidak ada. Kamu ingin bekerja kembali. Tetapi anak-anak masih kecil sedangkan Dedi bersikeras pada kesepakatan awal. Kamu tetap bersama untuk waktu yang lama, tetapi kilas balik ke usia 50 tahun kamu pun bertanya: apa yang salah? Beginikah hidup yang adil?</scenario04_02>
   
    <!--05 -->
    <scenario05_tit>Karno adalah orang asing yang berusia 5 tahun lebih tua dan pendidikannya lebih tinggi.</scenario05_tit>
    <scenario05_01>Kamu dan Karno memutuskan untuk pindah ke negaranya. Saat masih mempelajari bahasa baru dan menyesuaikan dengan budaya setempat kamu punya 2 anak. Kehadiran mereka melengkapi kebahagiaan kamu. Kamu tidak keberatan berhenti dulu bekerja. Hari-hari dijalani dengan penuh kebahagiaan. Sebelum akhirnya kamu sadar sudah menginjak usia 50. Kamu memang bergantung pada penghasilan suami, tapi kamu tidak merasa keberatan. Kamu yang meletakkan dasarnya, Karno yang membuka arah anak-anak.</scenario05_01>
    <scenario05_02>Karno memutuskan untuk menetap. Ketika belajar bahasa dan menyesuaikan dengan budaya yang baru, dia menjaga anak-anak. Setelah dapat membaur dengan masyarakat dia akan dapat menemukan pekerjaan. Akan tetapi ijazah akademinya tidak diakui. Sedangkan dia tidak punya keterampilan lain misalnya sebagai dokter umum atau tukang ledeng. Dia hanya mendapat pekerjaan informal dengan penghasilan kecil.  Sebagai wanita, kamu digaji lebih rendah dibanding karyawan laki-laki. Keluarga kamu hanya dapat berhemat. Ketika usia kamu mencapai 50 tahun, Karno bersikeras ingin kembali ke kota asalnya. Akhirnya kamu biarkan dia pergi. Urusan cinta sudah kamu tinggalkan bertahun-tahun lalu.  </scenario05_02>
   
    <!--06 -->
    <scenario06_tit>Usia Dani 10 tahun lebih tua dan berpendidikan lebih tinggi.</scenario06_tit>
    <scenario06_01>Kamu adalah pasangan yang berbahagia. Suami mempunyai penghasilan besar! Alasan sempurna untuk tinggal di rumah dan menjaga anak. Mulailah masa hidup kamu yang indah. Setelah anak-anak tumbuh besar, perhatian kamu semakin tercurah untuk keluarga.  Menyenangkan sekali! Akan tetapi, Dani meninggal pada usia 60 tahun. Pada usia lima puluhan kamu tidak akan menemukan kesulitan mencari pria pengganti begitu kamu bisa lepas dari rasa sedih kehilangan suami.  Mungkin juga karena kamu sudah yakin mengenai warisan?</scenario06_01>
    <scenario06_02>Kamu menikah. Masalah mulai timbul, ketika anak-anak tahu bahwa suami kamu sudah punya anak dengan mantannya. Dia juga mencintai anaknya dan ingin memberikan perhatian - serta bantuan yang adil. Semula kamu sangka bahwa urusan uang baginya bukan masalah? Tapi sekarang itu menjadi masalah. Dani yang perhatiannya terpecah tidak dapat memberikan perhatian dan bantuan yang dibutuhkan anak-anak. Sehingga kamu terpaksa harus merawat mereka sendiri, tanpa bantuannya. Tapi dari sisi keuangan kamu masih sangat bergantung padanya. Pelajaran bagi anak gadis kamu: selalu teliti terlebih dahulu. Menikahi pria tampan, protektif dan lebih dewasa, hanya karena cinta?</scenario06_02>
   
    <!--07 -->
    <scenario07_tit>Kamu memilih untuk hidup tanpa ‘dia’.</scenario07_tit>
    <scenario07_01>Kamu memilih untuk hidup tanpa ‘dia’. Kamu merasa senang dengan pekerjaan dan lingkungan sosial saat ini. Adik laki-lakimu selalu melindungi dan menemanimu di setiap acara yang butuh ‘pendamping’ atau teman pria. Begitulah cara kamu bersosialisasi dan membina jaringan tanpa ada batasan. Semua kehidupan kamu berjalan mulus dan tentunya tidak akan mati kesepian maupun miskin.</scenario07_01>
    <scenario07_02>Kamu tidak pernah dapat menemukan ‘dia’. Kamu tak punya waktu untuk mencarinya. Semua energi kamu curahkan untuk karier. Tiba-tiba, setelah usia 50 tahun, kamu mulai bertanya apakah jalan yang kamu tempuh sudah benar. Lingkungan sosial kamu semuanya para wanita. Kamu sudah tahu bahwa dalam dunia kerja kaum prialah yang lebih diuntungkan. Sudah bukan sekali kami mencoba maju tetapi selalu terbentur dinding tebal. Kamu tidak tahu nasihat apa yang dapat diberikan untuk keponakan perempuanmu. Hidup sendiri dalam jalan buntu? Hidup sebagai ibu rumah tangga? </scenario07_02>
   
    <!--08 -->
    <scenario08_tit>You choose a woman.</scenario08_tit>
    <scenario08_01>Living together in the big city makes you both happy. In your social environment there are more women like you two – and men for that matter. But you also count heterosexual couples amongst your friends. You live the full life, both have jobs and seriously consider taking kids. Would they restrict you in your ambitions and freedom? You conclude that kids would enrich your lives and not harm your financial prospects in the long run. You go for it and never regret!</scenario08_01>
    <scenario08_02>Living together in the big city makes you both happy. Then your partner leaves for the village to look after her ailing mother. She has to endure harassment from her siblings over you all the time. In this period she is fired due to prolonged absence. Never mind, you gladly support her financially. Mentally however, you slowly drift apart, like big city and village. After her mother finally dies she returns to live with you again. But it’s too late. You don’t match anymore. You pity and keep supporting her, though you both approach 50 by now. The first quarrel with your new partner is about the money that goes to your ex. You are at a loss for a good reason.</scenario08_02>
   
    <!--09 -->
    <scenario09_tit>Kamu menghidupi anak-anak sendirian.</scenario09_tit>
    <scenario09_01>Menjelang kuliah selesai tak disangka kamu hamil.  Ayahnya adalah teman sekuliahmu. Kamu memutuskan untuk merawat bayi tersebut. Ayahnya pergi entah ke mana. Ibumu merawat anakmu ketika kamu kuliah, ini memang disarankan oleh ayah kamu. Kamu pertama kali diterima bekerja. Kemudian punya pacar baru. Kamu dekat dengan banyak pria tapi sulit untuk terikat dengan seorang. Aduh, kamu pun punya bayi lagi. Sebagai ibu mandiri kamu harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan. Untungnya kamu bisa mengatasi masalah ini. Orang tua, teman dan bahkan mantan-mantan kamu mengagumi stamina kamu dan suka membantu semampu mereka. Anak-anak sering membantu di rumah. Pada usia 50 kamu merasa bangga bahwa kamu dapat mandiri, juga secara finansial.</scenario09_01>
    <scenario09_02>Kamu ingin sekali punya anak sehingga menikah muda, tanpa berpikir panjang. Suami yang belum dewasa tidak betah hidup dalam keluarga lalu pergi, sehingga kamu hidup sebagai ibu pekerja. Lebih banyak kesulitan daripada kesenangan. Solusinya adalah menikah lagi, kali ini demi kebaikan. Tak lama kamu dapat menemukannya dan kamu bisa istirahat. Anak pertama kamu sekarang punya adik laki-laki dan perempuan. Suami kamu gajinya kecil, sehingga kamu mulai bekerja juga, sebagai tenaga paruh waktu. Kamu tidak sanggup membayar biaya pengasuh anak. Akibatnya kamu jatuh ke dalam kehidupan yang hampir miskin. Kamu tidak menemukan jalan keluar. Tapi bagi suami ada jalan keluar: dia pergi meninggalkan kamu dan anak-anak yang harus kamu rawat sendiri. Anak-anak harus bekerja untuk membantu menambah penghasilan. Mereka tidak sekolah, tak ada lagi masa depan untuk kamu.</scenario09_02>
	
	<scenario10_tit>Suamiku juga religius</scenario10_tit>
    <scenario10_01>Kamu berdua merasa sangat bahagia, dia orang yang sangat teguh beragama.
Kalian selalu beribadah bersama. Kamu berdua juga sepakat tentang cara mendidik anak di masa depan. Suami kamu adalah seorang pengusaha. Dia hidup sejalan dengan tuntunan agama. Tidak suka minum, tidak suka pesta.
Menginjak usia 50 suamimu sudah kaya. Anak-anak rajin berolah raga dan nilai pelajaran mereka di sekolah bagus. Dan kamu? Kamu hidup senang, tetapi sedikit membosankan. Kamu tetap bekerja paruh waktu. Kebahagiaan keluarga kamu dan usaha suamimu lebih penting dari pada karier kamu sendiri.
</scenario10_01>
    <scenario10_02>Beberapa hari setelah menikah kamu menyesali pernikahan tersebut. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Kamu punya anak. Setelah punya anak tiga, kamu memutuskan untuk bercerai. Kamu kemudian belajar. Kamu ingin berkarier. Tetapi suamimu tidak setuju, lebih buruk lagi keluarga suamimu juga sama tidak setuju. Akhirnya kamu bercerai dan memutuskan untuk kembali ke orang tuamu sendiri. Kamu sudah 6 tahun tidak bekerja. Kamu menerima tawaran pekerjaan lama, melakukan penelitian. Keluarga mendukung kamu.  Pada usia 50 tahun, kamu sudah mapan. Anak-anak kamu juga mapan. Tapi kamu tidak pernah menemukan cinta lagi. Kamu kecewa menemukan bahwa ada pria yang memperlakukan kamu secara tidak adil.</scenario10_02>

    <!--URL-->
	<urlid>http://www.wageindicator.org/main/projects/decisions-for-life</urlid>
	<print>Cetak skenario ini</print>

</texts>